0

Evaluasi-kan Ramadhan-mu


Assalamualaikum..

Buat kamu yang masih bingung mengukur ‘amal ibadah’ selama bulan ramadhan, yuk download aplikasi ini. Insyaallah memudahkan kita dalam mengevaluasi amal shaleh yang dikerjakan. Aplikasi ini juga bisa digunakan untuk evaluasi amal bulanan loh..

Program Evaluasi-Mutabaah Ramadhan v1.3.0

sumber: lupa, udah punya dari tahun lalu :))

#semangatmemperbaikidiri

Advertisements
Image
0

[Photograph] Say Hello from My Wild Backyard


Kata siapa motret pake camera digital ngga berseni? Kata siapa hewan liar, tanaman liar dan halaman belakang yang berantakan ngga bisa jadi objek foto yang menarik? Bagi kamu yang ngga pede buat motret hal-hal yang ‘tidak berguna’ semacam ini, ada baiknya kamu cobain dulu deh buat foto-foto objek tersebut. Siapa tahu ada bakat terpendam pada dirimu (halah).
Pagi ini saya iseng aja liat halaman belakang yang entah dari kapan tidak saya lihat. Kebetulan baru bangun tidur juga. Saya lihat tanaman liar sudah mulai bertumbuhan. Daripada melamunin hal-hal yang enak dilamunin (nah loh apa) mending saya motret iseng-iseng. Hasilnya lumayanlah. Dari sekian puluh foto ada beberapa yang saya suka. (Cuma beberapa doang XD). Biarin lah, daripada ngga ada yang bagus sama sekali. Oya, foto-foto yang saya unggah ini hanya memakai mode micro dan no effects loh ya. Jadi harap maklum aja hasilnya pas-pasan. Lumayanlah untuk pemula (ngeles mulu ya kerjaannya maaf).

 

sun brightness. aw silaw

The sun brightness. aw silaw

 

P1160389

 

P1160375

 

P1160333

 

P1160329

 

P1160342

 

Calon dandelion

Calon dandelion

 

Siapa yang waktu kecil pernah jadi anak bawang? Nih saya kasih Ibu bawangnya. Beliau mau beranak.

Siapa yang waktu kecil pernah jadi anak bawang? Nih ibu bawangnya. Siapa tau mau kangen-kangenan

 

P1160360

 

hiiiiy X(

hiiiiy X(

 

Namanya Rocky. Kucing liar jantan. Status: single.

Namanya Rocky. Kucing liar jantan. Status: single.

 

[Photograph] Say Hello from My Wild Backyard

 

P1160367
Ngga, saya ngga memaksa minta komentar dari anda sekalian. Apalagi dari fotografer profesional. Ya karena saya menyadari foto-foto ini sebenarnya belum layak publikasi. Intinya saya cuma iseng aja hehehe. Wassalam.

0

Sunday Blue


Ditengah padatnya kota, ada seorang yang menangis karena ditinggal Ibunya. Lemah. Ditinggal hanya berjarak 700an KM aja nangis. Huuu. Liat banyak yatim piatu diluar sana, beruntungnya kamu yang masih memiliki kedua orang tua., Kamu disini ngga sendirian, kata Ibumu kan, masih ada Alloh, Hey, betapa canggihnya teknologi saat ini. Kamu juga bisa berinteraksi dengannya bahkan hingga bertatap muka langsung menggunakan teknologi itu. Bukan suatu masalah kan. “Tapi aku sendirian secara fisik, aku ngga bisa ngobrol secara langsung, temanku hanya kamu wahai imajinasiku”. Ya, itulah proses pendewasaan, hey. Kamu memangnya sanggup menjadi dewasa kalo ngga ‘diginiin’? kurasa kamu ngga sanggup. Lihat, seminggu ada Ibu aja malesnhya luar biasa, gimana ada Ibu terus. Liat kamarmu setiap hari, seperti apa? Kapal pecah pun lewat!. Denger, dibalik semua ini pasti banyak hikmah kan? Coba deh flashback, apa aja yang udah di dapat kamu sama keluargamu?. Kamu udah bisa masak? sip.. Kamu udah bisa nyuci baju dengan tangan? sip.. kamu udah bisa jahit? belum ya? maaf, skip dulu. Next, lihat Babehmu, udah berubah lebih baik kan? 180 derajat! sip banget ngga?. Adikmu, lihat perubahannya? lebih baik kan? lebih pinter jelas. Ibumu, betapa subhanallah-nya beliau. Kerasa ngga obrolan kalian makin mesra? Bisalah dibandingin sama waktu-waktu sebelumnya.

Jadi sekarang gini aja, kalau kamu sayang sama keluargamu, buktiin kamu bisa. Kuliah yang bener. Masalah-masalah yang lalu jangan dipikirin atau bahkan diulangi lagi. JANGAN! tatap masa depanmu. Bahagia mereka adalah suksesmu. Kalau kamu ngga sukses, sayang banget tuh air mata di buang-buang sekarang.

 

Saya, imajinasi dan perasaanmu

Bandung, 30 Maret 2014  08.00

1

PKL (Pekan Karyawisata Lombok)


Sebelumnya saya ingin memperjelas tulisan saya disini. Jadi begini, tulisan ini seperti halnya humor atau kekecewaan yang dibuat agak ringan. Kalau dibuat berat, curiga saya dikeroyok hahaha. Maaf bila kata-kata yang digelintirkan agak nyeleneh dan membuat beberapa hati tidak suka. Tapi ini kan blog saya ya, harusnya saya boleh menulis apapun yang saya rasakan dan saya alami. Tujuannya sih ini kritik membangun. Semoga apa yang dikritik dapat membangun kembali objeknya 😉

Bukan tidak senang terhadap kegiatan yang telah saya jalani beberapa hari yang lalu, tapi ya, namanya juga kritik atau saran. Saya bingung mau ‘curhat’ ke siapa. Sedangkan petinggi-petinggi fakultas saya ini seperti mengiya-iyakan saja apa yang dimau sama mahasiswanya. Harusnya jelas ya, ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk melakukan suatu kegiatan. Apalagi menyangkut keterampilan yang dimiliki oleh mahasiswa. Saya calon akuntan, harusnya saya bisa menjurnal, kan? Nah kira-kira seperti itulah harusnya tujuan-tujuan Praktik Kerja Lapangan. Mahasiswa dapat pengalaman kerja untuk bekerja di kemudian hari setelah diwisuda bukannya pengalaman snorkling atau berbelanja di beberapa pusat oleh-oleh di kota orang. Kita dicetak menjadi akuntan yang profesional atau jadi tour guide, sih?

Loh loh pada bingung ya kenapa menghubung-hubungkan akuntan dengan tour guide. Jadi begini, Pekan lalu fakultas saya mengadakan PKL. Seharusnya PKL itu berarti Pratik Kerja Lapangan, kan. Awalnya, saya vote untuk mengadakan PKL di area Bandung dan sekitarnya. Betul toh? Karena di Bandung terdapat banyak perusahaan, baik itu swasta ataupun negeri. Disamping itu, biaya yang akan dikeluarkan pun tidak akan terlalu mahal. ya itung – itung hanya mengeluarkan uang makan dan transport paling. Awalnya, saya pikir PKL di tempat saya menempuh pendidikan ini sama halnya seperti PKL yang dilakukan kebanyakan universitas, seperti pengabdian beberapa bulan kepada masyarakat atau seperti magang di perusahaan-perusahaan. Dan ternyata PKL yang dilakukan tidak lebih seperti karyawisata kelulusan anak SMP. Tapi vote dari mahasiswa kebanyakan memilih PKL dilakukan di daerah Jawa Timur, SEKALIAN MAIN ke Bali dan Lombok. Ebuset aja kesana naik bus. Daaaaan, akhirnya hal ini pun terjadi.

Biaya untuk PKL ini tidak murah menurut saya. Untuk mahasiswa semester 5 yang hampir memasuki tahun akhir, pasti banyaklah pengeluaran-pengeluaran. Sebelumnya sudah harus bayaran lab, bayaran uang kuliah tetap, bayaran SKS, bayaran bayaran bayarannnn…. huah banyak deh sampai berjutjut. Saya pribadi masih di danai orang tua sih, untungnya. Tapi kan kasihan mereka. Harusnya saya juga yang tahu diri. Ya ini salah saya. Saya tidak turut andil dalam pembayaran. Bukan tidak mencoba, sudah dicoba, tapi belum rezeki. Pasti saya usahakan lagi Bu, Pak.

Kembali ke topik. Perjalanan dari Bandung ke Bandung lagi menghabiskan waktu 9 hari. Kebayang ngga selama itu kita naik bus? saya tidak hanya membayangkan, tapi merasakan. Tepos deh cyin. Yuk ah evaluasi kegiatan saya dan kawan-kawan selama 9 hari tersebut.

  • Hari ke-1 berangkat pagi-pagi dari Bandung
  • Hari ke-2 siang-siang sampai ke salah satu perusahaan pembangkit listrik di daerah Jawa Timur. Maaf ya disamarkan, hal ini untuk kepentingan bersama *ceilah bahasanya*. Di hari ini harusnya kami mengunjungi 2 tempat. Tapi karena entah apa itu kemarin penyebab keterlambatan (banget). Jadinya diutuslah 2 bus – 2 bus dari 4 bus. Bus yang 2 ke salah satu universitas terkemuka di Jatim. 2 bus lagi ke perusahaan pembangkit, termasuk saya di dalam 2 bus itu. Nah konyolnya orang-orang di perusahaan pembangkit ini juga bingung kenapa kunjungan calon sarjana akuntan kok ke tempat calon sarjana teknik? ya kita juga bingung. Dan, semakin bingung ketika slide yang ditampilkan 95%nya adalah teknik. Kurang lebih menceritakan air yang masuk ke turbin dan memutarnya sehingga mengeluarkan tenaga mekanik yang dapat menghasilkan tenaga listrik bla bla bla.. Saya bingung deh nanti buat laporan kunjungan tersebut seperti apa. Apa hubungannya perputaran turbin dengan laporan keuangan? atau sistem akuntansi? huft.
  • Hari ke-3 Malam hari sampai di hotel Jayakarta. Jauh-jauh ke Lombok nginep di sini dong. Segitu di Bandung ada 2 cabang hotel ini. Kenapa PKLnya ngga sekalian nganalisis keuangan di Jayakarta Bandung. Modal 2 hari 2 malam juga kayaknya bisa buat nganalisis. Entah itu SWOT dari hotel atau kalau bisa sekalian keuangannya. Pengalaman kerja cyin.
  • Hari ke-4 Nemenin orang karyawisata di gili trawangan. Tapi saya suka waktu ke tempat pembudidayaan mutiara. Nyobain daging mentah kerang mutiara. Sangat ekstrim tapi enak. Kurang jeruk nipis aja hehehe
  • Hari ke-5 Kita terombang ambing lama di kapal laut di selat Lombok lebih dari 4 jam buat nyebrang dari Lombok ke Bali. Pusing. Bukan jetlag tapi namanya, karena ngga naik jet. tapi ini namanya kapallag karena kita naik kapal
  • Hari ke-6 Nemenin orang karyawisata di Tanjung Benoa Bali. kemudian lanjut ke Pandawa beach. cuma setengah jam kira-kira disini langsung lanjut ke GWK, paling suka sih kesini, liat patung, ngga cuma liatin orang karyawisata. Malemnya liat sunset yang sejujurnya ngga keliatan karena mendung di Jimbaran. Terus makan makanan dengan menu sejenis ‘appetizer’ atau mungkin malah menu utama yang terlihat seperti kobokan daripada clear sup.
  • Hari ke-7 Mampir dan belanja (lagi) ke toko oleh-oleh khas Bali. Entah ke yang berapa. Ngga ngitung. Pokoknya setiap hari dari Lombok pasti aja mampir ke toko oleh-oleh minimal 2 toko/hari.
  • Hari ke-8 Mampir ke Yogyakarta. Belanja (lagi). Gitu deh. Malah bikin kangen Bapake gara-gara lewat nih kota. Hampir 2 bulan ga ketemu 😦
  • Hari ke-9 Bandung, yeay! *walaupun telat 6 jam sampai Bandung dari waktu yang diestimasikan di rundown*

Woah, bener-bener liburan ya. Pengen nangis deh jujur. Udah abis uang, cuma liat air asin yang di dapet. Oh ngga deng, dapet destinasi tempat buat honey moon ntar hahahaha.

Untuk staf pengajar a.k.a dosen di universitas tempat saya menempuh pendidikan, fakultas saya khususnya. Ayolah, tolong, bantu mahasiswa mencari pengalaman untuk kerjanya. Kalau masalah pengalaman hidup sih sambil menyelam minum air kan bisa. Terutama sih calon akuntan seperti saya yang nanti ketika bekerja 100%nya adalah praktek. Ngga bisa kami ini mentranslasi teori yang di dapat dalam kelas ke dunia praktik dengan sendirinya. Kecuali emang kami benar-benar jenius. Sayangnya kami (saya khususnya) tidak jenius. Kalaupun ada agenda yang 90%nya adalah main, udah sih kasih judul Study Tour aja jangan PKL. Mengemban nama PKL itu sulit. Saya ditanya oleh orang tua, saudara, teman “PKLnya berapa bulan?”, saya jawab “9 hari”, mereka bilang “alah itu PKL atau main?”. Awalnya saya bilang “ngga tau noh” dan sekarang jawabannya saya sudah tau, yakni MAIN.

Saya harap angkatan saya (2011) ini adalah angkatan terakhir yang PKLnya ngga pararuguh kayak gini. Banyak jadwal yang melenceng juga dari rundown. Pokoknya sih itu. Untuk tahun bawah angkatan saya tolong dibenahi. Bagaimana bisa menjadi ‘kompetitor’ jika tidak dapat menghasilkan ‘produk’ yang berkualitas?.

0

Hanya Persepsi


Ketika kau mengerti hal yang tidak kau mengerti, maka mengertilah. Hal ini tidak untuk selamanya. Hanya seperti ulat yang akan cantik pada waktunya, waktu dimana ulat menjadi kupu-kupu. Indah.

Hanya sekedar menunggu, menunggu itu artinya sementara, kan? seperti hanya memberi kesempatan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik. Bermain bersama teman, belajar dengan serius, tanpa buang-buang uang, tanpa buang-buang waktu. Seperti yang kau eluhkan. Akhirnya kukabulkan. Lakukanlah. Sepuasmu, sesukamu.

Terkadang hal menyenangkan tidak lagi menyenangkan. Atau sebaliknya. Kau suka, aku tidak suka. Atau sebaliknya. Aku nyaman, kau tidak nyaman. Atau sebaliknya. Ya, aku manusia. Kau juga, kan? Aku harap iya. Harusnya saling melengkapi, bukan saling membenci. Seharusnya, berarti tidak mesti.

Aku dapat berjalan menyusuri banyak cabang otakku secara bersamaan. Ya aku hebat. Sedangkan kau bisa menyusuri banyak cabang otakmu, namun tidak secara bersamaan. Bukan karena kau tidak hebat. Namun kau lelah, kau belum sanggup. Karena kau ingin semuanya sempurna. Aku tahu itu. Maka lakukanlah hal yang ingin kau lakukan, ya, mungkin yang tidak ingin dilakukan bersama atau denganku.

Terkadang salah paham itu menyenangkan, kan? karenanya kau dapat melakukan hal yang kau suka. Ya, mungkin aku pun. Namun menyenangkannya tidak sebesar rasa menyedihkan. Sedih. Ya, karena berkorban untuk sesuatu yang tidak selalu aku inginkan. Anggaplah hanya membuat semuanya lebih baik.

Sederhana saja, kecewa. Ku pikir aku motivasi bagimu, seperti kau motivasi bagiku. Sejauh ini ya. Sebelum kau menunjukkan bahwa bukan akulah motivasi terpenting untukmu. Kenapa kau tidak bisa menyusuri otakmu secara bersamaan? Jangan lelah, kumohon. Apa benar-benar tidak bisa?

Baiklah, aku tidak memihak pada diriku. Aku ikut lelah. Aku akan tidur. Memberi kesempatan untukmu agar dapat menyusuri otakmu secara bersamaan, agar tidak lagi menempuh tujuan dengan jalan sendiri-sendiri. Kasihan tujuan yang lainnya, terhambat.

Kemudian, nantinya kuharap kau akan bisa menyusuri otakmu lagi secara bersamaan. Kemudian, nantinya kuharap aku akan bisa menyusuri otakku lagi secara bersamaan. Kemudian secara bersamaan otakku dan otakmu tersusuri dengan persepsi diri kita masing-masing. Masing-masing? Ya, setidaknya akan bersamaan tersusuri. Tidak tertinggal lagi.

Aku akan bahagia ketika pengorbanan ini terbalas. Bukan memaksa balasan untukku. Setidaknya kau dapat menjadi kupu-kupu dengan sayap baru nan indah. Kau akan terbang bebas. Tentu dengan wujud terbaikmu. Walau nantinya bukan aku bunga yang menjadi tujuanmu melepas lelah setelah kau terbang dengan sayapmu, wahai kupu-kupu.

Chat
0

Lieuuur ih


pidibaiq: “Den, kalau kamu pernah megang bujur (pantat-Red) si Ibu Arna ga?’ saya nanya ke si Deden
suryasa: Ha ha ha
pidibaiq: “Belum sempet” katanya
suryasa: Ha ha sibuk!!!
pidibaiq: “Kapan dong?” saya nanya. “Nanti aja pas Deden lagi tenang”, katanya, “Biar total. Sekarang masih banyak masalah”, katanya
suryasa: Hihihihiii
pidibaiq: “Ah yang penting mah niat, Den”
suryasaa: Hi hi hi
pidibaiq: “Makasih, Pid, motivasinya” katanya
suryasa: Ha ha ha *poek (*Au ah gelap-Red)

 

lebih lanjut bisa baca disini http://ayahpidibaiq.blogspot.com/2013/02/in-memorial-suryasa.html

0

Drunken Marmut – Pidi Baiq


Sedikit ngutip aja dari sebanyak apa tulisan Surayah Pidi Baiq yang absurd. ehehe

Image

“Oh jangan kesel Ibu. Justru harus senang, biar orang yang bikin Ibu kesel merasa tidak berhasil membuat Ibu kesel merasa tidak berhasil membuat Ibu kesel. Biar berbalik jadi dia yang kesel. Dan jangan sedih, nanti kita yang rugi…”

“Rugi apa?”

“Karena, kita dilahirkan oleh sebab orangtua yang bersenang-senang”